Saturday, July 20, 2019

Pelatihan Sea Survival




PELATIHAN SEA SURVIVAL SERTIFIKASI BNSP DI 2019 INI? 

KENAPA TIDAK?


Pelatihan Sea Survival adalah pelatihan yang wajib dimiliki oleh pekerja minyak dan gas yang ingin pergi ke lepas pantai/offshore. Pelatihan diperlukan untuk mereka yang akan pergi ke platformmoving rig atau FPSO. Persyaratan ini diperlukan oleh semua KKKS, perusahaan minyak utama/Main Contractor, operator minyak dan gas, dan perusahaan pendukung di Indonesia.
Pada Tahun 2006, jumlah pekerja lokal di sektor hulu migas tercatat 21.835 pekerja dan pada pada 2015 meningkat 31.745 pekerja Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Jika dibandingkan dengan Tenaga Kerja Migas Asing: Tahun 2015 ada 31,7 ribu pekerja Migas Indonesia, berbanding dengan 1000 pekerja migas asing (TKA). Ini menjadi salah satu indikator semakin mampu berkompetisinya tenaga kerja migas kita.

Pada Tahun 2016, menjadi 29.863 orang TKI dan 668 orang TKA. Pada tahun 2017 perbandingan jumlah pekerja menjadi 26.811 orang TKI dan 405 orang TKA. Terakhir, pada Semester 1 Tahun 2018, perbandingan pekerja menjadi 24.739 orang TKI dan 312 orang TKA.
Walaupun saat ini tampak menurun, Menurut informasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) yang dilansir CNN; Akan ada 13 Proyek Migas lepas pantai di Indonesia yang diramalkan akan beroperasi (onstream) di tahun ini. Dari seluruh proyek tersebut, produksi migas berpotensi bertambah 240 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD).
Ini adalah kesempatan bagus untuk kita semua pekerja migas yang sudah siap dan membekali diri. Salah satu bekalnya adalah pelatihan sea survival adalah wajib bagi pekerja hulu migas yang akan ke lepas pantai.

Pelatihan Sea Survival Sertifikasi BNSP
Contoh Video Pelatihan Sea Survival BNSP




Pelatihan Sea Survival



Menurut Permen ESDM No 5 tahun 2015 Tentang Pemberlakuan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Di Bidang Kegiatan Usaha Minyak Dan Gas Bumi Secara Wajib. Kepemilikan sertifikasi kompetensi BNSP di bidang Migas semakin banyak disosialisasikan termasuk sea survival sertifikasi BNSP.

Namun masih ada sejumlah pekerja migas yang ragu untuk mengambil sertifikasi sea survival BNSP.  Momok pertama adalah: Mengambil sertifikasi BNSP itu “belum pasti lulus” sedangkan biaya sudah pasti keluar 4,5-5,5jt per orang (tergantung Training Providernya). Apalagi persentase “Kompeten” dan  “Belum Kompeten” juga tidak rendah, berkisar 50-50.

Dari Pengalaman saya ada 3 J untuk lebih meningkatkan potensi dan persentase kompeten ini.

1) Jawab Dengan Tegas dan Lugas (Jangan Ngelantur /Ngasal Jawabnya)


Uji Kompetensi wawancara Pelatihan Sea Survival Sertifikasi BNSP memang seringnya diadakan setelah Uji praktek yang dilanjutkan dengan makan siang. Lelah setelah praktek,perut yang kenyang bisa membuat konsentrasi berkurang. Pada akhirnya jawaban kita menjadi “asal” dan bahkan cenderung melantur.
Namun harap diingat, jika kita tidak memiliki sertifikat sea survival kita tidak dapat berangkat ke kerja.

Solusinya: Jawab dengan Tegas dan Lugas.
Jika merasa bingung dengan pertanyaan dari asesornya, minta diulang atau minta asesor menggunakan bahasa yang lebih mudah. Jika sudah paham pertanyaannya, jawab dengan Tegas dan Lugas. Sama seperti kita (peserta) yang ingin agar uji kompetensi ini cepat selesai, sang asesor juga ingin segera pulang.
Jawab Pertanyaan Asesor dengan Tegas dan Lugas.


2) Jelaskan Sesuai SOP (Jangan Asal Menjawab)


Sering sekali faktor kelelahan dan ketidak pahaman soal prosedur menjadikan peserta menjadi asal menjawab. Jangan Lakukan itu. Jangan Asal Jawab.
Beberapa asesor bahkan suka bercanda bahwa peserta menjawab asal karena terlau banyak air masuk ke kepalanya pada saat melakukan back flip dari liferaft. Gunakan waktu menunggu giliran interview untuk membaca ulang handout/materi training atau berdiskusi dngan trainer / asisten trainer yang ada di lokasi. Pastikan kita memahami juga Standard Operational Procedure (SOP)nya supaya bisa menjawab sesuai SOP.

Solusinya: Jelaskan dengan Lengkap Sesuai SOP.
Naik ke liferaft ada aturan / SOPnya, turun dari Liferaft juga ada aturan / SOPnya. Menaiki Scramble Net ada caranya. Terjun ke air/ melakukan water entry ada caranya. Dan semua sesuai SOP.

3) Hargai (Jangan Anggap Remeh) Asesor.


Beberapa Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) / Tempat Uji Kompetensi (TUK) yang mengadakan Sea survival sertifikasi BNSP memiliki asesor berusia muda (di bawah 40 Tahun). Walaupun kita Sebagai Peserta memiliki pengalaman di bidang Migas dan atau usia lebih banyak dari mereka, sebaiknya kita tetap menghormati mereka.
Paling tidak, asesor muda itu sudah lebih dahulu menyelesaikan sea survival sertifikasi BNSP mereka daripada kita.

Solusinya: Jaga Kesopanan.
Jaga kesopanan



Demikian kenapa kita mesti ambil sea survival sertifikasi BNSP di 2019 ini lengkap dengan 3 J untuk Lolos uji kompetensi sea survival sertifikasi BNSP. Semoga semua pembaca blog ini yang ingin mengikuti uji kompetensi sea survival dapat mendapatkan sertifikasi Sea Survival dan kompeten.



Luki Tantra
Associate Trainer for Safety & Soft skill Training.
Asesor BNSP I Trainer Sertifikasi BNSP
Menulis untuk LSP Transafe Indonesia